theobroma kakao

April 8, 2008 oleh jubaidakakao

Botani

Pohon kakao.

Pohon kakao.

Kakao merupakan tumbuhan tahunan (perennial) berbentuk pohon, di alam dapat mencapai ketinggian 10m. Meskipun demikian, dalam pembudidayaan tingginya dibuat tidak lebih dari 5m tetapi dengan tajuk menyamping yang meluas. Hal ini dilakukan untuk memperbanyak cabang produktif.

Bunga kakao, sebagaimana anggota Sterculiaceae lainnya, tumbuh langsung dari batang (cauliflorous). Bunga sempurna berukuran kecil (diameter maksimum 3cm), tunggal, namun nampak terangkai karena sering sejumlah bunga muncul dari satu titik tunas.

Bunga kakao tumbuh dari batang.

Bunga kakao tumbuh dari batang.

Penyerbukan bunga dilakukan oleh serangga (terutama lalat kecil (midge) Forcipomyia, semut bersayap, afid, dan beberapa lebah Trigona) yang biasanya terjadi pada malam hari1. Bunga siap diserbuki dalam jangka waktu beberapa hari.

Kakao secara umum adalah tumbuhan menyerbuk silang dan memiliki sistem inkompatibilitas-sendiri (lihat penyerbukan). Walaupun demikian, beberapa varietas kakao mampu melakukan penyerbukan sendiri dan menghasilkan jenis komoditi dengan nilai jual yang lebih tinggi.

Buah tumbuh dari bunga yang diserbuki. Ukuran buah jauh lebih besar dari bunganya, dan berbentuk bulat hingga memanjang. Buah terdiri dari 5 daun buah dan memiliki ruang dan di dalamnya terdapat biji. Warna buah berubah-ubah. Sewaktu muda berwarna hijau hingga ungu. Apabila masak kulit luar buah biasanya berwarna kuning.

Biji terangkai pada plasenta yang tumbuh dari pangkal buah, di bagian dalam. Biji dilindungi oleh salut biji (aril) lunak berwarna putih. Dalam istilah pertanian disebut pulp. Endospermia biji mengandung lemak dengan kadar yang cukup tinggi. Dalam pengolahan pascapanen, pulp difermentasi selama tiga hari lalu biji dikeringkan di bawah sinar matahari.

[sunting] Penghasil kakao

Delapan negara penghasil kakao terbesar adalah (data tahun panen 2005)

  1. Pantai Gading (38%)
  2. Ghana (19%)
  3. Indonesia (13%, sebagian besar kakao curah)
  4. Nigeria (5%)
  5. Brasil (5%)
  6. Kamerun (5%)
  7. Ekuador (4%)
  8. Malaysia (1%)

Negara-negara lain menghasilkan 9% sisanya.

[sunting] Jenis-jenis komoditi

Kakao sebagai komoditas perdagangan biasanya dibedakan menjadi dua kelompok besar: kakao mulia (“edel cacao”) dan kakao curah (“bulk cacao”).

Di Indonesia, kakao mulia dihasilkan oleh beberapa perkebunan tua di Jawa. Varietas penghasil kakao mulia berasal dari pemuliaan yang dilakukan pada masa kolonial Belanda, dan dikenal dari namanya yang berawalan “DR” (misalnya DR-38). Singkatan ini diambil dari singkatan nama perkebunan tempat dilakukannya seleksi (Djati Roenggo, di daerah Ungaran, Jawa Tengah). Varietas kakao mulia berpenyerbukan sendiri.

Sebagian besar daerah produsen kakao di Indonesia menghasilkan kakao curah. Kakao curah berasal dari varietas-varietas yang self-incompatible. Kualitas kakao curah biasanya rendah, meskipun produksinya lebih tinggi. Bukan rasa yang diutamakan tetapi biasanya kandungan lemaknya.

komoditi kakao

April 8, 2008 oleh jubaidakakao

Kakao merupakan salah satu komoditi unggulan Indonesia yang telah memberikan sumbangan devisa bagi negara karena telah lama menjadi komoditi ekspor Indonesia. Dalam kancah pasar dunia, keberadaan Indonesia sebagai produsen kakao utama di dunia menunjukkan bahwa kakao Indonesia cukup diperhitungkan dan berpeluang untuk menguasai pasar global. Dengan demikian, seiring terus meningkatnya permintaan pasar terhadap kakao maka perlu dilakukan usaha untuk meningkatkan ekspor dengan lebih meningkatkan lagi produksi nasional.

permasalahan masyarakat kakao

April 8, 2008 oleh jubaidakakao

Asosiasi Kakao Indonesia ( ASKINDO )

Berdasarkan perkembangan kakao di luar negeri dan permasalahan yang dihadapi masyarakat kakao Indonesia saat ini, maka telah dirasa perlu adanya suatu wadah yang dapat mewakili segenap masyarakat kakao Indonesia yaitu dengan menyatakan tekad untuk menyatukan diri dalam wadah Asosiasi Kakao Indonesia (askindo).

Pemikiran pembentukan askindo pertama kali tercetus pada saat penyelenggaraan Pekan Dagang dan Pengembangan Coklat II, tanggal 26-28 Nopember 1984 di Surabaya. Dengan usaha dari masyarakat kakao dan dukungan dari pihak pemerintah, maka tanggal 11 April 1988 telah dibentuk Panitia Persiapan Pembentukan askindo di Jakarta.

Dengan dorongan, dukungan dan fasilitasi dari pemerintah khususnya Menteri Muda Perdagangan Dr. J. Soedrajad Djiwandono dan Menteri Muda Pertanian Dr. Ir. Sjarifuddin Baharsjah pada hari Sabtu tanggal 18 Pebruari 1989, telah berdiri sebuah organisasi/asosiasi dengan nama Asosiasi Kakao Indonesia disingkat askindo.



deskripsi kakao

April 8, 2008 oleh jubaidakakao

DESKRIPSI KLON KAKAO UNGGUL

Salah satu penyebab rendahnya produktivitas kakao Indonesia adalah masih belum digunakanya bahan tanam unggul yang sesuai kondisi lingkungan setempat. Salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas kakao adalah dengan perbaikan bahan tanam. Untuk menyusun komposisi klon kakao yang sesuai untuk setiap kondisi lingkungan, disini dijelaskan tentang sifat-sifat klon kakao unggul, yang dapat dibudidayakan atau dikembangkan di suatu daerah, seperti klon dibawah ini.

Klon ICS 13
Habitus tanaman besar
Daya hasil 1.852 kg/ha
Berat biji kering 1.03 g/biji
Warna flush merah tua
Bentuk daun panjang membulat
Ujung daun meruncing
Pangkal daun tumpul
Bentuk buah bulat memanjang
Pangkal buah tumpul tanpa leher botol
Kulit buah agak kasar
Alur buah tegas
Ujung buah meruncing
Warna buah muda merah kecoklatan
Warna buah masak merah jingga

Klon ICS 60
Habitus tanaman besar
Daya hasil 1.500 kg/ha
Berat biji kering 1.67 g/biji
Warna flush merah kekuningan
Bentuk daun panjang meruncing
Ujung daun meruncing
Pangkal daun tumpul
Bentuk buah bulat memanjang
Pangkal buah tumpul dengan leher botol
Kulit buah kasar
Alur buah tegas
Ujung buah meruncing
Warna buah muda hijau muda
Warna buah masak kuning

HIBRIDA
Habitus tanaman besar
Daya hasil 2 ton/ha
Berat biji kering 1 g/biji
Warna flush merah muda
Bentuk daun panjang membulat
Ujung daun meruncing
Pangkal daun tumpul
Bentuk buah bulat memanjang
Pangkal buah tumpul dengan leher botol
Kulit buah kasar
Alur buah dalam
Ujung buah meruncing
Warna buah muda hijau muda
Warna buah masak kuning

RCC 70
Habitus tanaman sedang
Hasil persilangan THS 858 x ICS 60
Bersifat kompatibel sendiri
Daya hasil 2.287 kg/ha
Berat biji kering 1.18 g/biji
Warna flush merah
Tahan hama Helopeltis spp.
Bentuk buah agak bulat, kulit buah agak halus
Pangkal buah tumpul dengan leher botol
Ujung buah meruncing
Alur kurang tegas
Warna buah muda cerah, buah masak merah jingga

RCC 73
Habitus tanaman sedang
Hasil persilangan Pa x UF 11
Bersifat inkompatibel sendiri
Daya hasil 2.439 kg/ha
Berat biji kering 1.16 g/biji
Agak toleran penyakit busuk buah
Warna flush kuning kemerahan
Bentuk buah agak panjang, kulit buah agak halus
Pangkal buah agak tumpul dengan leher botol sangat jelas
Ujung buah meruncing
Alur kurang tegas
Warna buah muda hijau, buah masak kuning tu

hama kakao

April 8, 2008 oleh jubaidakakao

1. DESKRIPSI KLON KAKAO UNGGUL
2. DESKRIPSI VARIETAS UNGGUL PADI TIPE BARU
3. TEKNIK BUDIDAYA JAGUNG SUKMARAGA
4. HAMA/PENYAKIT UTAMA PADA TANAMAN KAKAO DAN TEKNIK PENGENDALIANNYA
5. KLON-KLON UNGGUL KOPI ROBUSTA
6. TEKNIK PEMBUATAN TEPUNG KASAVA
7. ARACHIS PINTOI SEBAGAI TANAMAN PENUTUP TANAH PADA PERKEBUNAN LADA

HAMA/PENYAKIT UTAMA PADA TANAMAN KAKAO DAN TEKNIK PENGENDALIANNYA

Usaha pengembangan kakao di Lampung sering mengalami berbagai hambatan terutama oleh hama dan penyakit. Salah satu kendala utamanya adalah adanya beberapa jenis hama /penyakit yang sering menyerang tanaman kakao. Jenis hama/penyakit yang sering menyerang tanaman kakao di Lampung antara lain: (a) hama penggerek buah kakao; (b) kepik penghisap buah kakao, Helopeltis antonii Sign; dan (c) penyakit busuk buah, Phytophthora palmivora.

GEJALA SERANGAN

a. Penggerek buah kakao (PBK)
Conopomorpha cramerella
Buah kakao yang diserang berukuran panjang 8 cm, dengan gejala masak awal, yaitu belang kuning hijau atau kuning jingga dan terdapat lubang gerekan bekas keluar larva. Pada saat buah dibelah biji-biji saling melekat dan berwarna kehitaman, biji tidak berkembang dan ukurannya menjadi lebih kecil. Selain itu buah jika digoyang tidak berbunyi.

b. Kepik penghisap buah (Helopeltis spp)
Buah kakao yang terserang tampak bercak-bercak cekung berwarna coklat kehitaman dengan ukuran bercak relatif kecil (2-3 mm) dan letaknya cenderung di ujung buah. Serangan pada buah muda menyebabkan buah kering dan mati, tetapi jika buah tumbuh terus, permukaan kulit buah retak dan terjadi perubahan bentuk. Bila serangan pada pucuk atau ranting menyebabkan daun layu, gugur kemudian ranting layu mengering dan meranggas.

c. Penyakit busuk buah (Phytophthora palmivora)
Buah kakao yang terserang berbercak coklat kehitaman, biasanya dimulai dari ujung atau pangkal buah. Penyakit ini disebarkan melalui sporangium yang terbawa atau terpercik air hujan, dan biasanya penyakit ini berkembang dengan cepat pada kebun yang mempunyai curah hujan tinggi dengan kondisi lembab.

METODE PENGENDALIAN
Usaha pengendalian hama/penyakit tersebut terutama dilakukan dengan sistem PHT (pengendalian hama terpadu).
• Hama penggerek buah.
Pengendaliannya dilakukan dengan : (1) karantina; yaitu dengan mencegah masuknya bahan tanaman kakao dari daerah terserang PBK; 2) pemangkasan bentuk dengan membatasi tinggi tajuk tanaman maksimum 4m sehingga memudahkan saat pengendalian dan panen; (3) mengatur cara panen, yaitu dengan melakukan panen sesering mungkin (7 hari sekali) lalu buah dimasukkan dalam karung sedangkan kulit buah dan sisa-sisa panen dibenam; (4) penyelubungan buah (kondomisasi), caranya dengan mengguna-kan kantong plastik dan cara ini dapat menekan serangan 95-100 %. Selain itu sistem ini dapat juga mencegah serangan hama helopeltis dan tikus.; (5) cara kimiawi: dengan Deltametrin (Decis 2,5 EC), Sihalotrin (Matador 25 EC), Buldok 25 EC dengan volume semprot 250 l/ha dan frekuensi 10 hari sekali.

• Hama helopeltis
Pengendalian yang efektif dan efisien sampai saat ini dengan insektisida pada areal yang terbatas yaitu bila serangan helopeltis <15 % sedangkan bila serangan >15% penyemprot-an dilakukan secara menyeluruh. Selain itu hama helopeltis juga dapat dikendalikan secara biologis, menggunakan semut hitam. Sarang semut dibuat dari daun kakao kering atau daun kelapa diletakkan di atas jorket dan diolesi gula.

• Penyakit busuk buah.
Dapat diatasi dengan beberapa cara yaitu: (1) sanitasi kebun, dengan memetik semua buah busuk lalu membenamnya dalam tanah sedalam 30 cm; (2) kultur teknis, yaitu dengan pengaturan pohon pelindung dan lakukan pemangkasan pada tanaman-nya sehingga kelembaban di dalam kebun akan turun; (3) cara kimia, yaitu menyemprot buah dengan fungisida seperti :Sandoz, cupravit Cobox, dll. Penyemprotan dilakukan dengan frekuensi 2 minggu sekali; (4) penggunaan klon tahan hama/penyakit seperti: klon DRC 16, Sca 6,ICS 6 dan hibrida DR1.

produksi tanaman kakao di Indonesia

Maret 13, 2008 oleh jubaidakakao

Di negara kita ini banyak terdapat produksi tanaman kakao yang banyak diolah oleh kalangan masyarakat di indonesia.Selain rasanya yang enak dan lezat,kakao atau yang sering kita kenal dengan nama cokelat banyak di gemari oleh kalangan anak muda.

Hello world!

Maret 13, 2008 oleh jubaidakakao

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!